Malam Mendung
kuberjalan di pinggiran telanjang kaki, tanggapnya aku bodoh berjalan tanpa alas bukan, bukan karena itu tak takut ku akan butiran pasir di aspal yang basah di tanah yang liat dan kotor kuhanya ingin menyaksikan bulan yang malu tampil lantaran hujan tangisnya yang terisak-isak kuhentakkan kakiku diantara kubangan kecil, kubertanya didalam lirik lagu mengapakah, engkau? rasa penasaranku terus memenuhi kalbu apakah sang bintang meninggalkan bulanku yang sedang mabuk asmara ini?