Jangan Pilih Saya
Apa yang sesungguhnya kau cari
Apa yang sebenarnya kau lihat, kau amati
Apa yang ada dalam pikiranmu, dalam relungmu
Apa yang setulusnya kau inginkan di dalam hatimu
Aku, wanita yang dididik, dikungkung dalam
edukasi
Aku, memiliki tangan yang bekerja keras untuk sesuap nasi
Aku, bisa kuat berdiri melihat dan juga
punya hak memilih
Aku, bukan wanita yang bisa dengan
mudahnya kau bodohi
Banyak hal yang wanita harus lakukan
setelah janur melingkar
Memasak, mencuci, adalah kegiatan sehari-hari
yang terus berputar
Setelah lelah, namun harus melayani sesuai
dengan ikatan sehidup semati
Senang tidak senang, tetap kerjakan, pagi,
siang, sore, malam sampai pagi
Bukan lagi tidak dimengerti, namun
diperlakukan tidak dengan hati
Dulu bilang, kalau ini adalah yang pertama
dan yang terakhir kali
Dusta itu memang bangkai, rayu palsu itu
memang seperti belati
Bau busuk tercium setelah sekian lama,
rasa sakit rasa ingin mati
Itu dahulu sampai sekarang, masalah
terdengar dengan tema yang sama
Masalah daging dan tulang lebih yang ia
punya itu, tak bisa terpahami
Kepuasan nafsu hilang saat tak bisa lagi
sebugar dalam melayani
Kami ini bukan sapi perahan, bukan juga
pekerja seks anda
Begini, ikatan sebelum terikat harus
diikat kesepakatan
Kalau hanya mata tertuju pada akhir
kepuasan di atas ranjang
Bukan saya ahlinya, saya baik, namun
banyak hal penting lain
Yang bisa dikerjakan selain bertingkah
gila sebagai boneka pemuas birahi
Saya ada, saya dicipta oleh Sang Pecipta, bukan
untuk menjadi budak
Saya ada, untuk menjadi sepadan, sebagai
orang yang melengkapi anda
Bukan untuk menjadi mannequin yang selalu di pamer-sampai berdiri lelah, berdebu
Yang hanya bisa diam, kaku, seperti mati
tidak, hidup pun tak dilihat
Yah, masalah kemolekan, masalah ukuran buah
dada dan buah pinggul
Jangan cari saya, masalah kulit putih
bersih, dan bibir menggoda
Jangan lihat saya, masalah tangan halus,
nyaman untuk disentuh
Jangan pilih
saya, pilih saja di tempat pelacuran
By: Rut Novyanti /Maret, 3, 2012
Comments