Malam Mendung

kuberjalan di pinggiran
telanjang kaki,
tanggapnya aku bodoh
berjalan tanpa alas

bukan, bukan karena itu
tak takut ku akan butiran pasir
di aspal yang basah
di tanah yang liat dan kotor

kuhanya ingin menyaksikan
bulan yang malu tampil
lantaran hujan tangisnya
yang terisak-isak

kuhentakkan kakiku
diantara kubangan kecil,
kubertanya didalam lirik lagu
mengapakah, engkau?

rasa penasaranku
terus memenuhi kalbu
apakah sang bintang meninggalkan
bulanku yang sedang mabuk asmara ini?


Comments

Popular posts from this blog

Children Know

"tjinta"