Anggukkanku itu Setiaku
Saat mata ini melihat
Semangatmu meyakinkan, menanyakan
Sesuatu hal yang kau
rangkai
Indah, manis, merenyuhkan, meluluhkan
“Maukah kau menjadi
pengantinku, Kasihku?”
Itu yang kau ucap, manis, aku tergugah
Terharu campur aduk
bahagia
Membungkam mulut dan tenggorokku
Untuk mengucap kata,
hanya
Anggukku dalam dan senyumku sangat bahagia
Setelah aku ada denganmu
Mahligai kebahagiaanku dimulai
Dari permintaan,
perintah, kadang mulai bentakan
Manjadi santapan harian pernikahan
Miris, pilu dan perih, hanya
Aku terus menagangguk dan mencoba tersenyum
Sesingkat itukah manismu
dan rayumu
Terperangkap dalam cinta yang seperti neraka
Mau marah, tapi teringat
cinta.. Aku ini
Memang makhluk paling bahagia dan terluka
Tahun-tahun berlalu, tak
hanya hentakmu, namun amarah
Dan kata durja yang kau ucap, kau lontarkan
Namun, tangan yang biasa
menyentuhku, mengusap pipiku
Berubah menjadi hantaman tajam
Hati sudah kau lukai
terlebih dahulu
Berbeda saat ini, kau hancurkan setiaku melampaui
batas
Meratap tangis tidak lagi
menjadi selingan
Tak akan ada lagi anggukan ketulusan, apa lagi
ucap
Yang ada hanya bisikan
keras angin debu,
Tuk’ wakilkan teriakku selamat tinggal
By: Rut
Novyanti /Maret, 3, 2012
Comments