Posts

Jemput aku, ya!

Malam tiba lelah tubuhku , Tuhan  Terlelap tidurku , sakit kepalaku  Bangunku kesiangan , aku bergegas turun Be rjalan kaki , jika hoki  Aku bisa naik angkot keluar bareng pak Supir  Yang tinggal di komplek yang sama  Sepulang sekolah ku lelah , a ku haus  Tapi tugasku belum selesai  Ku diperiksa sepulang sekolah  Selesai itu aku mengambil sebuah lap  Selesai itu aku mengambil sebuah kain pel  Selepas itu aku menyeka minyak-minyak  Seusai itu aku menggengam sikat kamar mandi  Selesai itu aku sebenarnya ingin main, tapi  Masih ada celana dengan kotoran yang harus aku sikat  Selesai itu aku lapar dan lelah sekali  Seperti biasa , piring bercorak bunga kesukaan mamaku dan sendok yang sedikit berkarat kupakai untuk makan setiap harinya  Jika hoki aku makan nasi yang tidak sedikit dan tidak kering  Menu yang nyaris muak ku makan...

selamat jalan

Mati itu sederhana Sekejap tenang Dia pun hilang Padahal tadi tersenyum merona Tepat satu jam Sebelum aku terbangun Aku terus termenung Tak bisa mata ini terpejam Kusenang pelukan Hangatnya dia, Teguran manisnya  Pun tak bisa kulupakan Marahpun, ia tetap manis Menegur dan menghukum tegas Namun aku tahu jelas Bahwa di hatinya, ia menangis Sedu seda ku  Dia peluk sabar Tawa girangku Dia dengar Ma, sesederhana itulah hidup  Meskipun bayangmu mulai redup Namun hati tetaplah ingatmu dan setia Ku akan ingat 'tuk tetap bahagia Terima kasih, mama Semarang, Rut Novyanti

Debu

Asa ku lenyap Ditelan senyap Tangisku kejar Aku lemas terkapar Apalah aku bagimu Ada pun bukan maumu Sedihku bukan milikmu Bahagiamu buatku pilu Siapa aku ini Layakkah meminta belas kasih Dari mu, yang bukan apa apamu Ingatkah kamu bilamana kita bertemu Lemah aku Hancur aku Saat asa tak ada lagi  Nafasku pun nyata terhenti

an old new me

Sudah bertahun-tahun blog ini sepi dengan cuapan dan kicauan bahagia, gelisah dan kelamnya hidup penulis. Terlalu banyak hal terjadi, sehingga sulit tuk meluangkan waktu untuk menuangkan butiran dan luapan rasa itu.  Namun, hati ini menjadi berat lagi, karena penulis sudah lama tak bersua dengan angin semilir dan percikan air yang tenang tanpa gangguan dan panggilan yang menyita perhatian. Hidup itu pelik. Pelik yang tak dapat berhenti hanya dengan menangis dan menggerutu.  Hal-hal di atas adalah kesungguhan hati penulis untuk kembali menghidupi kebiasaan baik ini. Kebiasaan yang telah lama mati, namun ingin dipupuki dan disirami lagi. Dengan cinta dan keseimbangan waktu, demi mengembalikan kelegaan dan kewarasan penulis.  Menurut penulis, seorang ibu haruslah menjadi seorang yang paling kreatif dalam mengatur semuanya. Keletihan diganti dengan kepulihan. Kepahitan diganti dengan kesukacitaan. Trauma diganti dengan tekad optimis.  Mari menulis, Penulis 

Death Relieves

Walked they tittled-tattled Talked they laughed Shits they out Cry they watched None was theirs They acted like piece Of garbage That made curse Sick Tick Tack Fuck Let it released Hold it right Stop it breathed Let me died Words Lost I Gone All done

Unsteady

Said to be ready Promise loudly Present convincingly Dip self in reality It is never easy Even just to see And pass day by day Crying doesn't heal Hard days should be done, still None can give me chill To keep my head sane still Others said just say say Tell tell what you want to share But better to lay Rather to think and prepare About what to say Me think, talking to you Better not, because I know Others tend to be judgemental To say I am sentimental Days without the real me Have been hard Don't they know me Don't they have heart? Don't they have empathy? Don't dare you pity when you do not have that ability ... A Mom, 28112019  

Kelak

Tekad tuk langkahkan kaki Nekad ketukkan pintu Membuka halaman baru Yang membuatku nampak lagi Hidup tak lagi sama Apapun terlihat sulit Yang ada sekarang telah lama Tiada, akibat tertelan oleh bumi Melihat betapa hancurnya Sebuah batu besar nan tajam Seperti itulah hatiku nampakmya Dikoyak dan dirajam Ragaku tak sampai mati Hatiku tak sampai hilang Semua terasa titik-titik Keletihan dan pedihnya lara hati Nampaknya kematian merupakan Pintu terbaik, yang menjadi tujuan Untuk menapaki perjalanan Selanjutnya, tanpa lagi tertekan Daun, mengapakah kau cepat jatuh- Dari ranting yang dahulu Kau bilang kasih, kau kata cinta? Mengapakah ranting rela melepaskan? Jangan kau bilang takdir Pula kau bilang itu harus Semuanya hanyalah sesaat takbir Yang berkumandang dengan lembut, halus Ditelinga ini, ingin sekali Aku mendengar, bisikkan Oleh lembutnya angin, sepoi nan pasti Dengan semilirnya, daun terhempaskan Lalu jatuh.. Tersapu.. Dan menjauh.. Hilang la...