Kelak
Tekad tuk langkahkan kaki
Nekad ketukkan pintu
Membuka halaman baru
Yang membuatku nampak lagi
Hidup tak lagi sama
Apapun terlihat sulit
Yang ada sekarang telah lama
Tiada, akibat tertelan oleh bumi
Melihat betapa hancurnya
Sebuah batu besar nan tajam
Seperti itulah hatiku nampakmya
Dikoyak dan dirajam
Ragaku tak sampai mati
Hatiku tak sampai hilang
Semua terasa titik-titik
Keletihan dan pedihnya lara hati
Nampaknya kematian merupakan
Pintu terbaik, yang menjadi tujuan
Untuk menapaki perjalanan
Selanjutnya, tanpa lagi tertekan
Daun, mengapakah kau cepat jatuh-
Dari ranting yang dahulu
Kau bilang kasih, kau kata cinta?
Mengapakah ranting rela melepaskan?
Jangan kau bilang takdir
Pula kau bilang itu harus
Semuanya hanyalah sesaat takbir
Yang berkumandang dengan lembut, halus
Ditelinga ini, ingin sekali
Aku mendengar, bisikkan
Oleh lembutnya angin, sepoi nan pasti
Dengan semilirnya, daun terhempaskan
Lalu jatuh..
Tersapu..
Dan menjauh..
Hilang lalu...
Nekad ketukkan pintu
Membuka halaman baru
Yang membuatku nampak lagi
Hidup tak lagi sama
Apapun terlihat sulit
Yang ada sekarang telah lama
Tiada, akibat tertelan oleh bumi
Melihat betapa hancurnya
Sebuah batu besar nan tajam
Seperti itulah hatiku nampakmya
Dikoyak dan dirajam
Ragaku tak sampai mati
Hatiku tak sampai hilang
Semua terasa titik-titik
Keletihan dan pedihnya lara hati
Nampaknya kematian merupakan
Pintu terbaik, yang menjadi tujuan
Untuk menapaki perjalanan
Selanjutnya, tanpa lagi tertekan
Daun, mengapakah kau cepat jatuh-
Dari ranting yang dahulu
Kau bilang kasih, kau kata cinta?
Mengapakah ranting rela melepaskan?
Jangan kau bilang takdir
Pula kau bilang itu harus
Semuanya hanyalah sesaat takbir
Yang berkumandang dengan lembut, halus
Ditelinga ini, ingin sekali
Aku mendengar, bisikkan
Oleh lembutnya angin, sepoi nan pasti
Dengan semilirnya, daun terhempaskan
Lalu jatuh..
Tersapu..
Dan menjauh..
Hilang lalu...
Comments