Posts

Tak berjudul Luka

 Kukira lukaku sebanyak debu Di atas dedaunan hijau Yang dimana aku Pikir hujan akan membawanya Turun bersama aliran air sungai Ternyata tak sebanyak itu lukaku Namun itu sedalam akar Pepohonan tua yang tak terganggu Oleh desiran angin keras Yang olehnya daun-daunnya Berjatuhan tapi ia tetap Berdiri kokoh melindungi Apapun yang berada di bawahnya Saat matahari terik bersinar terang 11Junovy

Jemput aku, ya!

Malam tiba lelah tubuhku , Tuhan  Terlelap tidurku , sakit kepalaku  Bangunku kesiangan , aku bergegas turun Be rjalan kaki , jika hoki  Aku bisa naik angkot keluar bareng pak Supir  Yang tinggal di komplek yang sama  Sepulang sekolah ku lelah , a ku haus  Tapi tugasku belum selesai  Ku diperiksa sepulang sekolah  Selesai itu aku mengambil sebuah lap  Selesai itu aku mengambil sebuah kain pel  Selepas itu aku menyeka minyak-minyak  Seusai itu aku menggengam sikat kamar mandi  Selesai itu aku sebenarnya ingin main, tapi  Masih ada celana dengan kotoran yang harus aku sikat  Selesai itu aku lapar dan lelah sekali  Seperti biasa , piring bercorak bunga kesukaan mamaku dan sendok yang sedikit berkarat kupakai untuk makan setiap harinya  Jika hoki aku makan nasi yang tidak sedikit dan tidak kering  Menu yang nyaris muak ku makan...

selamat jalan

Mati itu sederhana Sekejap tenang Dia pun hilang Padahal tadi tersenyum merona Tepat satu jam Sebelum aku terbangun Aku terus termenung Tak bisa mata ini terpejam Kusenang pelukan Hangatnya dia, Teguran manisnya  Pun tak bisa kulupakan Marahpun, ia tetap manis Menegur dan menghukum tegas Namun aku tahu jelas Bahwa di hatinya, ia menangis Sedu seda ku  Dia peluk sabar Tawa girangku Dia dengar Ma, sesederhana itulah hidup  Meskipun bayangmu mulai redup Namun hati tetaplah ingatmu dan setia Ku akan ingat 'tuk tetap bahagia Terima kasih, mama Semarang, Rut Novyanti

Debu

Asa ku lenyap Ditelan senyap Tangisku kejar Aku lemas terkapar Apalah aku bagimu Ada pun bukan maumu Sedihku bukan milikmu Bahagiamu buatku pilu Siapa aku ini Layakkah meminta belas kasih Dari mu, yang bukan apa apamu Ingatkah kamu bilamana kita bertemu Lemah aku Hancur aku Saat asa tak ada lagi  Nafasku pun nyata terhenti

an old new me

Sudah bertahun-tahun blog ini sepi dengan cuapan dan kicauan bahagia, gelisah dan kelamnya hidup penulis. Terlalu banyak hal terjadi, sehingga sulit tuk meluangkan waktu untuk menuangkan butiran dan luapan rasa itu.  Namun, hati ini menjadi berat lagi, karena penulis sudah lama tak bersua dengan angin semilir dan percikan air yang tenang tanpa gangguan dan panggilan yang menyita perhatian. Hidup itu pelik. Pelik yang tak dapat berhenti hanya dengan menangis dan menggerutu.  Hal-hal di atas adalah kesungguhan hati penulis untuk kembali menghidupi kebiasaan baik ini. Kebiasaan yang telah lama mati, namun ingin dipupuki dan disirami lagi. Dengan cinta dan keseimbangan waktu, demi mengembalikan kelegaan dan kewarasan penulis.  Menurut penulis, seorang ibu haruslah menjadi seorang yang paling kreatif dalam mengatur semuanya. Keletihan diganti dengan kepulihan. Kepahitan diganti dengan kesukacitaan. Trauma diganti dengan tekad optimis.  Mari menulis, Penulis 

Death Relieves

Walked they tittled-tattled Talked they laughed Shits they out Cry they watched None was theirs They acted like piece Of garbage That made curse Sick Tick Tack Fuck Let it released Hold it right Stop it breathed Let me died Words Lost I Gone All done